Obama, Presiden AS Keturunan Kenya?
Christianto Wibisono
ada 10 Agustus 2004 saya telah menulis kolom berjudul Calon Senator Obama pernah SD di Indonesia. Kolom itu merupakan indikator perspektif politik AS ketika dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat, Obama tampil memukau dengan pidatonya yang dianggap merupakan re-inkarnasi mendiang John Kennedy. Ketika Kamis (3/1) malam ia berpidato menyambut kemenangan dalam Kaukus Iowa, barangkali mantan penulis pidato John Kennedy, Ted Sorensen, turut menyumbangkan substansi. Kemenangan pendahuluan Obama di Iowa merupakan terobosan yang sangat substansial. Karena penduduk kulit putih Iowa 93 persen, demikian pula New Hampshire 97 persen, yang akan menggelar primary, Selasa pagi. Obama membuktikan walaupun ia keturunan Kenya bisa menerobos sebagai presiden bukan kulit putih pertama di AS.
Masalah keturunan ini agak ruwet karena para penduduk AS keturunan Afrika dari era perbudakan, kurang begitu sreg menerima Obama sebagai bagian dari African American. Obama dianggap keturunan imigran pendatang baru dan setengah putih karena ibunya, Ann Dunham, berasal dari Kansas. Bapaknya Barak Hussein Obama Sr adalah penerima beasiswa dari Kenya dan menikahi Ann, melahirkan Obama Jr pada 1961 di Hawaii. Ketika pada 2006 Obama mengunjungi Kenya, ia disambut sebagai pahlawan dengan penuh kebanggaan karena keturunan Kenya bisa menjadi senator yang sekarang sudah meningkat menjadi capres AS.
Obama Sr memang seorang playboy yang menikah beberapa kali. Pertama sebelum Ann, di Kenya, setelah bercerai dari Ann dengan wanita kulit putih AS lain, lalu dengan dua wanita Kenya dan total menjadi bapak dari sembilan anak. Sementara Ann Dunham setelah cerai dari Obama Sr menikah dengan Soetoro dari Indonesia, yang kemudian membawa Obama melewati masa SD antara 1968-1973 di Indonesia. Setelah itu Ann bercerai lagi dari Soetoro dan kembali ke Hawaii, dan Obama Jr lebih banyak dirawat oleh kakek-neneknya dari pihak Ibu. Adik tiri perempuannya Maya Soetoro ikut pindah ke Hawaii dan menikah dengan warga Kanada keturunan Tionghoa, Konrad Ng.
Latar belakang sejarah ini sekarang mulai terkuak dan merupakan bagian dari ujian sejarah, apakah AS akan lulus sebagai negara demokrasi sejati yang tidak terhambat oleh faktor sentimen primordial seperti ras, etnis, keturunan, dan agama. Jika John Kennedy menghadapi masalah Katolik dan Mitt Romney agama Mormon, maka yang menimpa Obama adalah dua masalah sekaligus, etnis campuran imigran Kenya dan isu bahwa ia pemeluk Islam semasa hidup di Indonesia.
Kolumnis Reza Azlan dan ahli bedah Hesham Hassaballa adalah dua tokoh Muslim AS yang memberikan analisis tajam tentang dilemma yang dihadapi Obama. Pertama, masyarakat AS akan naïf sekali bila beranggapan bahwa dengan memilih seorang kulit hitam yang masa kecilnya pernah memeluk Muslim, AS akan langsung dirangkul oleh dunia ketiga dan Timur Tengah sebagai "negara sahabat". Kedua, karena politik luar negeri Presiden Obama, pasti tidak akan bisa melepaskan diri dari kepentingan masyarakat AS, yang sebagian masih tetap dipengaruhi faktor ketakutan terhadap terorisme walaupun sudah kapok terperosok di Irak. Ketiga, munculnya Michael Huckabee sebagai pemenang kubu Republik di Iowa membuktikan bahwa kaum evangelis tradisional merupakan kutub yang berlawanan dengan arus sekularisme Demokrat yang menunjang Obama.
Hassaballa menawarkan suatu statemen yang seyogyanya disampaikan oleh Obama secara terbuka, seperti, Kennedy mengakui faktor Katolik dan Mitt Romney mengakui faktor Mormon agar masyarakat dunia terbuka mengenai Islam. Saya kutip bagian dari masukan Hassaballa sebagai berikut:
" Some have even accused me of being a "clandestine Muslim," a "Muslim plant" seeking to capture the White House. Yes, my middle name is "Hussein," and there is nothing wrong with this. Now, I have said many times that I am not a Muslim, I am a Christian, who is devout and proud of his faith.
Yet, this does not mean that there is something wrong with being a Muslim. Islam is an honorable religion, the basis of a glorious civilization that has given the world some of its greatest gifts. Muslims comprise one-fiftth of the world's population, and millions of our fellow Americans derive comfort from the Muslim faith. Indeed, there are those who claim to be Muslim who have attacked our country, who have committed inhuman acts of violence in the name of their religion.
But, these people defile the religion of Islam, and they do not represent the overwhelming majority of Muslims, across the world and here in America, who are peace-loving, law-abiding citizens who want what everyone else wants: to live in peace and security. It is high-time that we as Americans, citizens of the greatest nation on earth, to repudiate and reject the politics of division, fearmongering, and hate. We can do better as a nation, and let us start today."
Bila hari Selasa besok Obama kembali menang dan mengalahkan Hillary berturut turut, maka tampaknya Obama akan menjadi unstoppable -tidak akan terbendung lagi pada konvensi Nasional Demokrat Agustus 2008. Obama benar-benar menjadi kekuatan dahsyat yang bahkan mengalahkan dinasti Clinton yang didukung oleh dinasti Kennedy. Saat ini dana kampanye Obama yang didukung oleh konglomerat George Soros, Warren Buffet, setara dengan dana yang dihimpun Hillary. Tapi, pesona Obama sudah jauh meninggalkan Hillary, bahkan di kalangan pemilih wanita dan kaum muda kulit putih. Disimpulkan bahwa Hillary hanya didukung oleh generasi tua yang merupakan masa lalu, sedang Obama menjanjikan harapan untuk perubahan.
Interdependensi
Kalau Kenya membanggakan Obama sebagai salah satu keturunan warga Kenya dan Indonesia berbangga pernah menjadi ":wali" sewaktu Obama masih SD, bagaimana elite Indonesia bisa memanfaatkan atau ikut mempengaruhi percaturan pilpres AS.
Selama ini elite Indonesia hanya berteriak-teriak tidak mau didikte Washington. Padahal, seluruh dunia tahu bahwa dalam era globalisasi ini, interdependensi sudah demikian hebat, sehingga jika orang mempunyai karakter dan kelihaian maka yang terjadi ialah skenario saling mempengaruhi. Kenya akan merujuk faktor leluhur untuk memperoleh perhatian AS dan Presiden Obama. Dunia akan menguji apakah AS benar-benar menjadi pimpinan global yang punya otoritas moral untuk mendikte orang lain.
Agar mengikuti teladan meritokrasi, seorang presiden keturunan dunia ketiga menduduki Gedung Putih. Jika Indonesia mau berperanan maka harus siap canggih dengan bukti timbal balik, bahwa di negara Pancasila Indonesia, seorang Papua Kristen atau Tionghoa Budhis juga bisa menjadi Presiden Republik Indonesia. Apakah Jakarta siap untuk itu atau akan ketinggalan meneladani terobosan Obama.
Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional
Rabu, 23 April 2008
Sekolah Obama di Menteng Bantah Berikan Pelajaran Radikal
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Kepala Sekolah SDN Menteng 01, Jakarta Pusat, Hardi Priyono, membantah dengan keras tuduhan bahwa pihaknya telah memberikan pelajaran Islam radikal menyusul santernya berita tentang kandidat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang pernah menempuh pendidikan di sekolah itu."Tidak benar sama sekali dan tuduhan itu tidak berdasar karena yang kami ajarkan di sini sesuai dengan kurikulum yang telah digariskan dan berlaku di SD-SD seluruh Tanah Air," kata Hardi di Jakarta, Rabu.Pria yang bertugas di sekolah tersebut sejak 1999 itu mengatakan, SDN Menteng 01 yang terletak di Jl Besuki nomor 4 Jakarta Pusat itu adalah sekolah umum yang terbuka bagi semua siswa beragama apa saja.SD tersebut didirikan oleh Belanda pada 1934 dan diserahterimakan kepada pemerintah Republik Indonesia pada 1961.Sejak 1961 itulah SDN Menteng 01 selalu memberikan materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.SD yang berdiri di kawasan seluas 2.300 m2 itu sejak awal berdiri hingga kini menerima siswa dengan berbagai latar belakang agama."Tahun ini siswa kami sebanyak 474, mereka ada yang beragama Islam, Kristen, dan juga Hindu. Semua kami terima di sini," katanya.Menurut dia, siswanya memang 90 persen beragama Islam tetapi itu lebih karena penduduk Indonesia sebagian besar merupakan penganut Islam.Meski begitu, pihaknya tetap mengakomodir siswa yang beragama selain Islam untuk mendapatkan pelajaran agama secara proporsional dan sama bobotnya dengan siswa-siswa muslim."Kalau sedang ada pelajaran agama ya siswa diajar oleh guru sesuai dengan agamanya di ruangan yang terpisah," katanya.Di SD Menteng 01 itu, Senator Illinois Amerika Serikat, Barack Obama, memang tercatat pernah menuntut ilmu.Obama terdaftar dengan nama Barry Soetoro dan menuntut ilmu di sekolah tersebut tidak sampai tamat karena meninggalkan SD itu pada 1971 atau sebelum kelas enam.Ketika Barry bersekolah di SD tempatnya mengajar, Hardi belum bertugas di sana, tetapi Hardi dapat memastikan Barry tidak mendapat pendidikan Islam radikal seperti yang banyak dituduhkan berbagai pihak selama ini."Dalam sejarahnya, karena kami sekolah umum ya yang diajarkan sesuai dengan kurikulum," katanya.(*)
Maya Soetoro, Senjata Rahasia Barack Obama
Oleh A Jafar M. SidikJakarta (ANTARA News) -
Sepanjang sejarah pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), baru sekarang nama Indonesia sangat kerap disebut oleh media massa setempat.Selasa (5/2), nama Indonesia disebut lagi secara luas setelah Barack Obama menang dalam pemungutan suara pemilih Partai Demokrat di Indonesia, kaukus suara di luar negeri yang sekarang menjadi salah satu yang amat menarik untuk diberitakan.Barack Obama-lah, calon Presiden AS dari Partai Demokrat, yang membuat Indonesia tiba-tiba begitu dekat dengan AS.Keterikatan Obama dan Indonesia bahkan lebih pekat dari yang diperkirakan setelah pemberitaan mengenai peran dan identitas adik perempuannya yang berdarah Jawa, Indonesia, Maya Soetoro Ng, semakin luas.Sebelumnya, orang Indonesia lebih mengenal Obama hanya sebagai seorang AS yang menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia. Kini, pengetahuan itu bertambah dengan kepopuleran Maya Soetoro.Ayah kandung Obama yang bernama Barack Hussein Obama adalah seorang Afrika berkewargnegaraan Kenya, sedangkan ayah kandung Maya adalah Lolo Soetoro, pria Jawa Timur tulen. Baik ayah kandung maupun ayah tiri Obama menganut keyakinan Islam.Obama dan Maya beribu sama, seorang perempuan kulit putih bernama Stanley Ann Dunham.Selama ini orang AS mengenal Michelle Obama, istri Obama, sebagai orang kuat di balik kampanye kecalonpresidenan dan karir politik Obama.Tapi, setelah kampanye itu memasuki babak terpanasnya, orang AS mulai ingin mengenal lebih dekat sosok Obama, terutama keluarganya."...(selain Michelle) ada dua lagi senjata rahasia Barack Obama, yakni kakak perempuannya Auma Obama dan adik perempuannya Maya Soetoro Ng," tulis Amy Argetsinger dan Roxanne Roberts dari Washington Post (22/1).Kedua wartawati The Post itu menyebutkan, aset politik terbesar Obama adalah tradisi multikultur yang ada dalam keluarganya. Tradisi itu dikembangkan oleh para perempuan di sekitar Obama, mulai ibunya sampai Maya Soetoro.Begitu besarnya peran perempuan terhadap Obama tercermin dari perangai dan sikapnya yang lembut. Hampir semua orang terdekatnya adalah perempuan. Lima perempuan menjadi kekuatan inti pribadi Barack Obama, yaitu Michelle, ibundanya yang almarhum, sang nenek, Maya, dan Auma. Keluarga Obama yang unik, karena berkomposisi ras warna-warni, sungguh menarik perhatian banyak orang di AS.Auma adalah asli keturunan Kenya. Ibunda Auma adalah istri pertama dari Barack Obama Sr. Sedangkan, Maya, membawa darah campuran Asia (Jawa, Indonesia).Saudara-saudara Obama yang lain hidup tenteram di Iowa, New Hampshire, dan jauh dari publikasi media, sehingga menyembunyikan keunikan keluarga Obama yang sesungguhnya merangsang apresiasi publik AS itu.Meski berbeda ayah, mereka selalu berdekatan dan berkomunikasi sangat rekat, khususnya hubungan antara Maya dengan Obama. Sampai sekarang Maya yang tumbuh besar bersama Obama di Indonesia dan Hawaii tetap mengenang masa kecil yang indah bersama sang abang. Berjam-jam ngobrol di telepon, menjadi tempat berkeluhkesah tatkala dibelit frustasi dan dirundung bingung, atau sebagai pelindung yang kadang terkesan protektif. "Dia membantuku menentukan pilihan," kata Maya kepada Chicago Sun Times edisi 9 September 2007.Maya yang sering dikira orang Latin atau hispanik itu sekarang telah menjadi istri pria Kanada keturunan Cina, Konrad Ng. Mereka dikarunia anak perempuan berusia 3 tahun bernama Suhaila. Maya memeroleh gelar PhD dari Universitas Hawaii, dan sekarang mengajar pada sebuah sekolah di Honolulu, sedangkan suaminya adalah PhD ilmu politik yang aktif dalam kampanye kepresidenan Obama."Apakah anda akan berkampanye untuk kakak anda?" tanya wartawati New York Times, Deborah Solomon, dalam satu wawancara dengam Maya pada 20 Januari 2008.Maya menjawab antusiastis, "Ya.""Di bemper mobil ku ada stiker bertuliskan, `1-20-09. End of an Error` (Akhir bagi Kekeliruan)," kata Maya.Kombinasi angka 1-20-09 merujuk pada waktu pelaksanaan pemungutan suara untuk pemilihan Presiden AS pada 20 Januari 2009, sedangkan maksud kalimat "akhir dari kekeliruan" adalah bahwa kemenangan si abang menjadi Presiden AS akan mengakhiri kekeliruan bangsa AS, karena telah memilih rezim yang salah.Bersama para selebritis top, seperti Robert de Niro dan Oprah Winfrey, Maya kini aktif berkampanye bagi pencalonan Obama sebagai kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat dan presiden kulit hitam pertama AS."Kukira hal terpenting yang bisa kulakukan sekarang adalah membagi alasan dengan orang-orang mengapa saya tergerak mendukung kampanye presidensial Obama, bahkan jika dia bukan abang ku," kata Maya.Kepada New York Times, Maya menerangkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang bersemayam dalam keluarganya, terutama setelah ditanam oleh sang ibu. Nilai-nilai keluarga ini pula yang merasuki pikiran, pandangan, dan prilaku Obama.Maya menyebut ibunya sebagai seorang agnostik (masih mempertanyakan keberadaan Tuhan dan konsep Ketuhanan), tetapi sang ibu pula yang mengajarkan kebaikan-kebaikan ajaran spiritual. "Mama kerap menghadiahi kami buku-buku bagus, Injil, Kitab Hindu Upanishad, Budhisme, dan Tao Te Ching. Beliau menginginkan kami meyakini bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang indah untuk disumbangkan kepada dunia," kata Maya."Anda tak menyebut-nyebut Al Quran? Anda khawatir kalau menyebut Islam akan mengundang kampanye hitam yang memburukkan citra politik kakak anda?" tanya Deborah.Maya yang mengaku secara filosifis Budhis menjawab, ibunya tak mengajarkan banyak hal soal Al Quran, namun keluarga kerap membacanya, bahkan setiap pagi mereka mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran selama di Indonesia.Maya menolak kekhawatiran identitas keislaman yang menempel ketat pada keluarganya --terutama ayah kandung dan ayah tirinya-- akan mencederai citra Obama."Aku tidak menyangkal Islam. Aku kira sangatlah penting untuk diketahui bahwa kami memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Tapi, akan sangat salah jika itu dihubung-hubungkan dengan abang ku karena ia berkeyakinan Kristen sejak 20 tahun lalu," kata Maya.Maya mengungkapkan, pesan keberagaman, kebersamaan, cinta, dan sikap saling menghormati yang diajarkan ibunya kepada mereka telah membuat mereka tumbuh sebagai anak-anak yang menoleransi perbedaan dan bercita-cita demi toleransi itu.Keluarga mereka, bahkan dinilai sangat melambangkan keragaman AS."Saya adalah wujud dari kebijakan luar negeri dan kekuatan Amerika. Jika nanti anda kabarkan pada orang-orang bahwa `Kita mempunyai presiden yang neneknya tinggal di satu gubuk di pinggir Danau Victoria dan mempunyai adik setengah Indonesia yang menikahi seorang Cina Kanada,` maka orang-orang akan menilai si presiden adalah orang yang akan lebih memahami apa yang dihadapi rakyat dan negerinya. Dan, mereka benar," kata Obama kepada New York Times edisi 4 November 2007.Tak hanya soal keberpihakan pada kaum terpinggirkan, Obama juga menjadi salah seorang kandidat presiden yang lebih bisa menawarkan cara kreatif dalam pendekatan internasional AS yang lebih ramah dan dialogis.Obama yang dikenal santun berperilaku dan berucap akan menjadi bekal dalam membangun dialog antar-bangsa yang lebih terbuka, berderajat, dan saling menoleransi.Selama ini pendekatan internasional AS pimpinan Presiden George Bush yang agresif penuh retorika keras dan anti dialog telah membuat AS keliru untuk kemudian gagal membina hubungan baik dengan dunia.Untuk alasan mengakhiri kekeliruan ini pula Maya Soetoro menyebut Obama sebagai yang tertepat untuk rakyat AS. Namun, banyak pihak tentunya berkomentar, "Kita lihat saja nanti." (*)
Sepanjang sejarah pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), baru sekarang nama Indonesia sangat kerap disebut oleh media massa setempat.Selasa (5/2), nama Indonesia disebut lagi secara luas setelah Barack Obama menang dalam pemungutan suara pemilih Partai Demokrat di Indonesia, kaukus suara di luar negeri yang sekarang menjadi salah satu yang amat menarik untuk diberitakan.Barack Obama-lah, calon Presiden AS dari Partai Demokrat, yang membuat Indonesia tiba-tiba begitu dekat dengan AS.Keterikatan Obama dan Indonesia bahkan lebih pekat dari yang diperkirakan setelah pemberitaan mengenai peran dan identitas adik perempuannya yang berdarah Jawa, Indonesia, Maya Soetoro Ng, semakin luas.Sebelumnya, orang Indonesia lebih mengenal Obama hanya sebagai seorang AS yang menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia. Kini, pengetahuan itu bertambah dengan kepopuleran Maya Soetoro.Ayah kandung Obama yang bernama Barack Hussein Obama adalah seorang Afrika berkewargnegaraan Kenya, sedangkan ayah kandung Maya adalah Lolo Soetoro, pria Jawa Timur tulen. Baik ayah kandung maupun ayah tiri Obama menganut keyakinan Islam.Obama dan Maya beribu sama, seorang perempuan kulit putih bernama Stanley Ann Dunham.Selama ini orang AS mengenal Michelle Obama, istri Obama, sebagai orang kuat di balik kampanye kecalonpresidenan dan karir politik Obama.Tapi, setelah kampanye itu memasuki babak terpanasnya, orang AS mulai ingin mengenal lebih dekat sosok Obama, terutama keluarganya."...(selain Michelle) ada dua lagi senjata rahasia Barack Obama, yakni kakak perempuannya Auma Obama dan adik perempuannya Maya Soetoro Ng," tulis Amy Argetsinger dan Roxanne Roberts dari Washington Post (22/1).Kedua wartawati The Post itu menyebutkan, aset politik terbesar Obama adalah tradisi multikultur yang ada dalam keluarganya. Tradisi itu dikembangkan oleh para perempuan di sekitar Obama, mulai ibunya sampai Maya Soetoro.Begitu besarnya peran perempuan terhadap Obama tercermin dari perangai dan sikapnya yang lembut. Hampir semua orang terdekatnya adalah perempuan. Lima perempuan menjadi kekuatan inti pribadi Barack Obama, yaitu Michelle, ibundanya yang almarhum, sang nenek, Maya, dan Auma. Keluarga Obama yang unik, karena berkomposisi ras warna-warni, sungguh menarik perhatian banyak orang di AS.Auma adalah asli keturunan Kenya. Ibunda Auma adalah istri pertama dari Barack Obama Sr. Sedangkan, Maya, membawa darah campuran Asia (Jawa, Indonesia).Saudara-saudara Obama yang lain hidup tenteram di Iowa, New Hampshire, dan jauh dari publikasi media, sehingga menyembunyikan keunikan keluarga Obama yang sesungguhnya merangsang apresiasi publik AS itu.Meski berbeda ayah, mereka selalu berdekatan dan berkomunikasi sangat rekat, khususnya hubungan antara Maya dengan Obama. Sampai sekarang Maya yang tumbuh besar bersama Obama di Indonesia dan Hawaii tetap mengenang masa kecil yang indah bersama sang abang. Berjam-jam ngobrol di telepon, menjadi tempat berkeluhkesah tatkala dibelit frustasi dan dirundung bingung, atau sebagai pelindung yang kadang terkesan protektif. "Dia membantuku menentukan pilihan," kata Maya kepada Chicago Sun Times edisi 9 September 2007.Maya yang sering dikira orang Latin atau hispanik itu sekarang telah menjadi istri pria Kanada keturunan Cina, Konrad Ng. Mereka dikarunia anak perempuan berusia 3 tahun bernama Suhaila. Maya memeroleh gelar PhD dari Universitas Hawaii, dan sekarang mengajar pada sebuah sekolah di Honolulu, sedangkan suaminya adalah PhD ilmu politik yang aktif dalam kampanye kepresidenan Obama."Apakah anda akan berkampanye untuk kakak anda?" tanya wartawati New York Times, Deborah Solomon, dalam satu wawancara dengam Maya pada 20 Januari 2008.Maya menjawab antusiastis, "Ya.""Di bemper mobil ku ada stiker bertuliskan, `1-20-09. End of an Error` (Akhir bagi Kekeliruan)," kata Maya.Kombinasi angka 1-20-09 merujuk pada waktu pelaksanaan pemungutan suara untuk pemilihan Presiden AS pada 20 Januari 2009, sedangkan maksud kalimat "akhir dari kekeliruan" adalah bahwa kemenangan si abang menjadi Presiden AS akan mengakhiri kekeliruan bangsa AS, karena telah memilih rezim yang salah.Bersama para selebritis top, seperti Robert de Niro dan Oprah Winfrey, Maya kini aktif berkampanye bagi pencalonan Obama sebagai kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat dan presiden kulit hitam pertama AS."Kukira hal terpenting yang bisa kulakukan sekarang adalah membagi alasan dengan orang-orang mengapa saya tergerak mendukung kampanye presidensial Obama, bahkan jika dia bukan abang ku," kata Maya.Kepada New York Times, Maya menerangkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang bersemayam dalam keluarganya, terutama setelah ditanam oleh sang ibu. Nilai-nilai keluarga ini pula yang merasuki pikiran, pandangan, dan prilaku Obama.Maya menyebut ibunya sebagai seorang agnostik (masih mempertanyakan keberadaan Tuhan dan konsep Ketuhanan), tetapi sang ibu pula yang mengajarkan kebaikan-kebaikan ajaran spiritual. "Mama kerap menghadiahi kami buku-buku bagus, Injil, Kitab Hindu Upanishad, Budhisme, dan Tao Te Ching. Beliau menginginkan kami meyakini bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang indah untuk disumbangkan kepada dunia," kata Maya."Anda tak menyebut-nyebut Al Quran? Anda khawatir kalau menyebut Islam akan mengundang kampanye hitam yang memburukkan citra politik kakak anda?" tanya Deborah.Maya yang mengaku secara filosifis Budhis menjawab, ibunya tak mengajarkan banyak hal soal Al Quran, namun keluarga kerap membacanya, bahkan setiap pagi mereka mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran selama di Indonesia.Maya menolak kekhawatiran identitas keislaman yang menempel ketat pada keluarganya --terutama ayah kandung dan ayah tirinya-- akan mencederai citra Obama."Aku tidak menyangkal Islam. Aku kira sangatlah penting untuk diketahui bahwa kami memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Tapi, akan sangat salah jika itu dihubung-hubungkan dengan abang ku karena ia berkeyakinan Kristen sejak 20 tahun lalu," kata Maya.Maya mengungkapkan, pesan keberagaman, kebersamaan, cinta, dan sikap saling menghormati yang diajarkan ibunya kepada mereka telah membuat mereka tumbuh sebagai anak-anak yang menoleransi perbedaan dan bercita-cita demi toleransi itu.Keluarga mereka, bahkan dinilai sangat melambangkan keragaman AS."Saya adalah wujud dari kebijakan luar negeri dan kekuatan Amerika. Jika nanti anda kabarkan pada orang-orang bahwa `Kita mempunyai presiden yang neneknya tinggal di satu gubuk di pinggir Danau Victoria dan mempunyai adik setengah Indonesia yang menikahi seorang Cina Kanada,` maka orang-orang akan menilai si presiden adalah orang yang akan lebih memahami apa yang dihadapi rakyat dan negerinya. Dan, mereka benar," kata Obama kepada New York Times edisi 4 November 2007.Tak hanya soal keberpihakan pada kaum terpinggirkan, Obama juga menjadi salah seorang kandidat presiden yang lebih bisa menawarkan cara kreatif dalam pendekatan internasional AS yang lebih ramah dan dialogis.Obama yang dikenal santun berperilaku dan berucap akan menjadi bekal dalam membangun dialog antar-bangsa yang lebih terbuka, berderajat, dan saling menoleransi.Selama ini pendekatan internasional AS pimpinan Presiden George Bush yang agresif penuh retorika keras dan anti dialog telah membuat AS keliru untuk kemudian gagal membina hubungan baik dengan dunia.Untuk alasan mengakhiri kekeliruan ini pula Maya Soetoro menyebut Obama sebagai yang tertepat untuk rakyat AS. Namun, banyak pihak tentunya berkomentar, "Kita lihat saja nanti." (*)
Selasa, 22 April 2008
Tabel-tabel Database
Untuk kebutuhan pembuatan database akademik, terlampir data tabel untuk pembuatan aplikasi akademik di Pendidikan Administrasi Perusahaan.
- Plotting Pengajar
- Registrasi Matakuliah
- Absensi Kehadiran Kuliah
- Plotting Pengajar
- Registrasi Matakuliah
- Absensi Kehadiran Kuliah
Langganan:
Komentar (Atom)